Grojogan Pucung Bantul, Asyik Untuk Foto-foto dan Ciprat-cipratan Air

KESANAKEMARI.COM – Hujan di Kamis dini hari itu tak juga berhenti.

Mencurah di sepanjang Jalan Parangtritis, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Serombongan pria yang tak muda lagi itu akhirnya memilih menepikan motor-motornya.

Tak kurang dari 12 orang itu menjadikan pinggiran kios-kios berhalaman lebar sebagai tempat berteduh.

Satu kios yang buka 24 jam dengan menjajakan aneka makanan dan minuman pantas untuk dijadikan sasaran mencari kehangatan.

Rokok, roti dan minuman penghangat tubuh adalah pilihan.

Dipadu dengan bekal makanan yang sengaja dibawa dari markas di Jalan Jenderal Sudirman 52 Kota Yogyakarta, rombongan pria yang tak muda lagi itu menggelar pesta kecil.

Canda tawa mengiringi di tengah ketidakpastian berhentinya curah air deras dari langit.

“Kalau hujan begini nggak akan ada habisnya bos,” ungkap satu di antara mereka.

Jawaban berpadu anggukan kepala tanda mereka menyetujui pendapat ini. Tak ada pilihan selain nekat menerobos hujan.

Untuk menuju Grojogan Pucung di Seloharjo, Pundong, Bantul masih memerlukan waktu tempuh tak sampai satu jam.

Sempat keblasuk akhirnya seorang warga yang baik hati menunjukkan arah lokasi air terjun itu.

Setelah melintasi jalan aspal yang semakin masuk kampung tambah mengecil dan berubah cor semen, rombongan kendaraan bermotor dengan merk campur aduk itu dipaksa melintas jalan tanah yang belum lama longsor.

Sangat sempit. Guyuran hujan semakin menambah ngerinya perjalanan menuju Grojogan Pucung.

Namun ketakutan yang menyatu dengan tekad penasaran merasakan sensasi air terjun, membuat motor-motor berhasil mendarat di rumah seorang warga. Rumah itu berada di tebing.

Terus di mana air terjunnya nih? Wah ternyata harus ditempuh dengan jalan kaki.

Bermodal head lamp, jas anti-hujan, lampu kapal, senter, lima dari belasan pria yang tak muda lagi itu nekat naik ke tebing curam.

Jalannya begitu sempit. Hanya cukup dilintasi satu orang per satu orang.

Jurang menganga di samping kiri. Naik dan terus naik. Jalannya licin. Setengah jam perjalanan dilalui hingga deru air terjun sudah terdengar.

Dan akhirnya sampai juga. Ada tanah sedikit lapang di dekat air terjun itu. Lima pria yang tak muda lagi itu merasa lega.

Hingga akhirnya satu di antaranya ingin buang air kecil alias pipis.

Dia menjauh dari rombongan. Head lamp sangat membantunya mencari lokasi aman membuang hajat kecil. Di bawah pohon menjadi pilihan.

Saat buang hajat itulah dia menengok ke arah grojogan. Sekilas indah.

Namun dia menangkap ada sosok tubuh manusia di arah air terjun itu.

Selesai pipis, dia mencoba mendekat. Dan pancaran lampu di kepalanya membantu matanya menangkap sosok wanita membelakangi dengan tangan kanan menutup mata dan tangan kiri ditelentangkannya.

Rambutnya panjang diikat tengah ala wanita zaman dulu.

Pakaian yang dikenakannya jelas khas Jawa berwarna merah tua tipis transparan bercorak kembang hitam.

Opo kae mas, neng kono kae mas, opo kae mas (apa itu mas, di sana itu apa mas),” serunya sambil berlari ketakutan ke arah rombongan yang hanya empat pria yang tak lagi muda itu.

Panik. Satu sama lain saling mengingatkan. Dia masih ketakutan. Tubuhnya menggigil. Hingga akhirnya diputuskan untuk turun lagi menuju rumah warga, lokasi parkir motor dan parkir tubuh.

Sontak kabar ada sosok wanita zaman dulu menghebohkan anggota rombongan lain.

Kala itu jarum jam menunjuk pukul tiga dini hari. Lambat laun kehebohan itu berubah menjadi keheningan.

Di sela keheningan terdengar dengkuran yang mengantar rombongan ke jam setengah enam pagi.

Akhirnya seluruh anggota rombongan memutuskan untuk kembali naik ke air terjun. Dan memang, Grojogan Pucung itu begitu indah. Rasa ngeri beberapa jam sebelumnya berubah menjadi keceriaan.

Semua terjun ke sungai. Semua merasakan sensasi ‘dipukul-pukul’air yang menghujam dari pegunungan. Foto-foto, main ciprat-cipratan air bak anak kecil pun tersaji di sana.

Pemandangan yang indah. Rasa capek, takut itu musnah. benar-benar menggairahkan. Otak makin fresh dan otot menjadi enjoy.

Air terjun ini bertingkat. Kanan kirinya masih asri dan asli. Orisinalitas alam yang belum tersentuh komersialitas inilah menjadikan Grojogan Pucung begitu indah.

Di air terjun itu diyakini dulunya ada gua yang merupakan sebuah kerajaan.

Memang ketika kaki mendekat ke arah gua itu, terasa semakin dalam. Makanya bagi yang mandi harus berhati-hati. (rr/mw)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *